文章
  • 文章
国际

Kisah jemaah yang selamat dari insiden terinjak-injak di Saudi dan tetap kembali beribadah haji

2016年9月11日下午12:43发布
2016年9月11日下午12:43更新

TRAGEDI MINA。摄影:Akun twitter resmi Direktur Jenderal Pertahanan Sipil Kerajaan沙特阿拉伯@ KSA_998

TRAGEDI MINA。 摄影:Akun twitter resmi Direktur Jenderal Pertahanan Sipil Kerajaan沙特阿拉伯@ KSA_998

雅加达,印度尼西亚 - Luka dan trauma masih membekas di ingatan jemaah haji asal Nigeria,Muhammad Sani ketika dia kembali menjejakkan kaki tahun ini di Arab Saudi。 Sani merupakan salah satu jemaah haji yang selamat dari insiden terinjak-injak di Mina ketika akan melempar jumrah。

Peristiwa yang terjadi pada tanggal 2015年9月24日menyebabkan sebanyak 2.297 jemaah tewas。 Saat itu jemaah tengah berjalan dari Jembatan Jamarat menuju ke Mina untuk melempar jumrah sebagai simbol melempari iblis dengan batu。

Pria yang berprofesi sebagai apoteker itu mengaku secara ajaib bisa selamat dari insiden itu。 Sementara,dua rekannya meregang nyawa。

“Secara ajaib,aku bisa lolos tanpa terluka。 Namun,insiden tersebut tetap meninggalkan luka di hati saya dan tidak akan pernah sembuh,“ujar Sani yang tiba di Arab Saudi bersama istrinya。

Kendati mengetahui peristiwa itu bisa saja terulang kembali tahun ini,tetapi dia mencamkan dalam pikirannya kematian bisa datang dari mana pun dan bukan karena akibat diinjak-injak saja。 Walaupun,mereka berharap keamanan di Tanah Suci bisa ditingkatkan oleh pemerintah。

Sebelumnya沙特juga sudah dirundung insiden mematikan lainnya,pertama crane yang rubuh menimpa bangunan di Masjidil Haram dan juga aksi bom bunuh diri di Masjid Nabwai,Madinah yang menewaskan 4 orang petugas keamanan。

Pemimpin tertinggi Iran,Ayatollah Ali Khameini mengkritik Pemerintah Saudi yang dianggap tidak serius dalam menelusuri penyebab insiden terinjak-injak itu。 Dalam peristiwa itu,jemaah haji asal Iran menjadi korban paling banyak yakni mencapai 464 orang。

Khameini juga mempertanyakan kemampuan沙特dalam mengelola tempat-tempat suci。 Bahkan,dia menuding Saudi tidak mengusutebih lanjut pihak yang seharusnya dalam peristiwa terinjak-injak di Mina。

Komite Pencari Fakta Islam Internasional justru tidak diizinkan oleh Saudi masuk ke dalam negaranya。

Tidak diberi kuota haji

Akibat kritik yang keras itu,Pemerintah Saudi akhirnya tidak melarang jemaah haji asal Iran untuk beribadah。 Walaupun,沙特mengaku akan menyambut kedatangan jemaah haji Iran yang datang dari negara lain。

Padahal,tahun lalu,伊朗mengirimkan 60 ribu calon jemaah ke Arab Saudi。 Tetapi,sejak Mei 2015,mereka mengatakan tidak dapat berpartisipasi ibadah haji tahun ini。

Jika Saudi dituding tidak becus mengelola ibadah haji,maka pemerintahan Raja Salman justru menyalahkan jemaah haji yang dianggap kerap tidak mengikuti aturan yang ada。 沙特mengaku telah melakukan investigasi,tetapi tidak ada hasil yang pernah mereka ungkapkan sejak tahun lalu。

Jumlah korban yang tewas pun berbeda-beda。 Pemerintah Saudi mengatakan jumlah korban mencapai 769 orang,tetapi data yang disampaikan 30 negara lain justru menyebut korban tewas mencapai 3 kali lebih tinggi。

Sementara,dalam insiden rubuhnya crane di kompleks Masjidil Haram telah menewaskan 109 orang。 Otoritas setempat telah membawa 14 orang yang diduga lalai ke meja hijau。

“Mereka tidak transparan tentang hal ini(peristiwa terinjak-injak di Mina)sama seperti mereka tidak transparan mengenai insiden crane。 Hal itu akan membuatmu berpikir kesalahan ada pada pihak yang berwenang dan bukan jemaah,“ujar seorang sumber。

Libatkan teknologi现代

Lalu,apa upaya Pemerintah Saudi inuk mencegah insiden serupa kembali terulang? Raja Salman telah memerintahkan agar dilakukan revisi dalam organisasi pengelolaan ibadah haji di Arab Saudi。 Laporan媒体沙特menyebut perubahan sudah ada pasca insiden tersebut。

拉曼阿拉伯新闻melaporkan jalanan di daerah Jamarat telah dilebarkan dan beberapa akomodasi untuk jemaah telah dipindahkan。 Harian Saudi Gazette melaporkan kini sudah ada ruang yang lebih luas setelah fasilitas pemerintah dipindahkan dari Mina。

Menteri Haji dan Umrah juga menggunakan teknologi tinggi untuk meningkatkan keamanan。 Untuk kali pertama,mereka menggunakan gelang elektronik berisi informasi pribadi jemaah haji。

Waktu lempar jumrah juga telah dibatasi。 Pengawasan juga diperketat dengan memasang kamera pengawas。

Perubahan itu diakui oleh jemaah haji sudah terasa,termasuk proses yang lebih cepat di bandara。

“Kami merasakan ada peningkatan yang lebih besar pada pelayanan,”ujar Asi Wat Azizan,petugas yang tiba bersama delegasi dari Thailand。

“Kami tidak takut akan insiden apa pun,”ujar jemaah haji asal Sudan,Najwa Hassan。

Sementara,menurut Dirjen PHU dari Kementerian Agama,Adul Jamil,mengatakan Arab Saudi telah mengambil tindak pencegahan untuk memastikan tragedi tahun lalu tidak akan terulang。

Sedangkan bagi jemaah asal Mali,Oumou Khadiatou Diallo,yang berhasil bertahan hidup kendati 7 orang di sekitarnya tewas,mengatakan Allah telah memanggilnya untuk kembali ke Tanah Suci。 Dia mengaku masih创伤,tetapi semangat ibadah tetap yang diutamakan。

“Saya berharap keamanan sudah ditingkatkan。 Jika saya memikirkan kembali korban yang tewas pada tahun lalu,rasanya sangat menyakitkan,“tutur Diallo。 - dengan laporan AFP / Rappler.com

BACA JUGA: